
MAGELANG – Memasuki era digital yang kian pesat, pelaku usaha dituntut untuk adaptif terhadap teknologi Kecerdasan Buatan (AI). Dalam sesi diskusi bisnis terbaru yang melibatkan praktisi dan akademisi FEB UNIMMA, terungkap berbagai perspektif menarik mengenai implementasi AI, mulai dari efisiensi konten hingga manajemen laporan keuangan.
Acara ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang industri, mulai dari jasa pelatihan, kuliner, hingga retail fesyen, untuk berbagi pengalaman nyata dalam menghadapi hambatan dan peluang teknologi.
Perspektif Praktisi: Dari Efisiensi Konten hingga Kendala Operasional
Beberapa narasumber membagikan kisah sukses maupun tantangan mereka dalam mengelola bisnis:
– Mas Arif (Praktisi LPK): Telah mengintegrasikan AI sejak 2016/2017. Ia memanfaatkan ChatGPT untuk riset *caption* dan judul konten, serta fitur AI di Canva untuk kebutuhan desain grafis.
– Mbak Dea (Owner Banapie): Bergerak di bidang kuliner pastry sejak 2017. Meskipun memiliki sistem made-by-order yang kuat, ia mengakui penggunaan AI di bisnisnya belum maksimal karena kendala waktu dan manajemen mandiri (solo operator).
Mbak Diah (Produksi Mukena & Retail): Mewakili sektor UMKM yang masih konvensional. Ia mengaku belum mendalami AI namun mulai melihat potensi teknologi ini untuk efisiensi produksi ke depan.
Optimalisasi Alat: GPT, Gemini, dan Copilot
Dalam sesi teknis, Kak Nia memaparkan perbandingan alat AI yang umum digunakan saat ini.
– ChatGPT dinilai memiliki performa paling solid untuk kreativitas, meski terasa lebih berat secara sistem.
– Copilot menjadi unggulan dalam menyusun strategi penjualan, pemasaran, hingga membantu pencatatan laporan keuangan secara otomatis.
> “AI bukan sekadar alat bantu, tapi investasi waktu. Dengan prompting yang tepat, pekerjaan yang biasanya memakan waktu berjam-jam bisa diselesaikan jauh lebih cepat,” jelas Kak Nia.
Kunci Utama: Diary Study dan Strategi Prompting
Salah satu poin penting dalam diskusi ini adalah pemahaman bahwa AI membutuhkan “bahan bakar” berupa data yang akurat. Sebelum masuk ke tahap pembuatan konten atau rencana bisnis (Business Plan), langkah pertama yang wajib dilakukan adalah Diary Study.
Diary Study berfungsi untuk memetakan kebiasaan, kendala, dan kebutuhan mendalam bisnis. Hasil dari studi inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk membuat prompt (instruksi) ke AI.
“Cara membuat prompt yang benar tercermin dari Diary Study kita. Jika data sudah lengkap dan detail, hasil AI untuk konten promosi hingga Company Profile akan jauh lebih pas dan tidak berantakan,” papar salah satu pemateri.
Sesi Tanya Jawab:
Dalam sesi tanya jawab, seorang pemilik agensi iklan membagikan pengalamannya menggunakan AI untuk menarik data pelanggan dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ia menekankan pentingnya instruksi detail (prompting) agar data yang masuk tidak tercampur atau berantakan. AI mampu memproses data yang masif asalkan diberikan konteks yang spesifik untuk setiap segmen pelanggan.
Bagi mahasiswa atau pelaku usaha yang ingin mendalami AI secara mandiri, disarankan untuk belajar melalui platform edukasi seperti Aileap Nusantara guna memperdalam teknik prompting yang profesional.
Melalui kegiatan ini, FEB UNIMMA terus berkomitmen menjembatani mahasiswa dan pelaku usaha agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pemain utama dalam ekosistem bisnis digital masa depan.

